Kawan, Bermimpilah Untuk Dapat Menembus Awan….

Mimpi….ya kita semua harus punya mimpi. Mimpi akan menjadi kekuatan alam bawah sadar bagi kita dalam meraih apa yang kita inginkan dan kita cita-citakan. Kita semua pasti punya mimpi…mimpi menjadi seorang pengusaha sukses, mimpi menjadi seorang pejabat, mimpi menjadi seorang musisi terkenal, dan mimpi-mimpi lainnya, bahkan tidak menutup kemungkinan seseorang memiliki lebih dari satu mimpi sekaligus.

Kita semua memang perlu bermimpi, tapi jangan sampai terlena dengan mimpi-mimpi kita. Untuk dapat meraih mimpi itu, perlu adanya usaha dari diri kita dan juga pengorbanan yang tidak sedikit, disamping senantiasa diiringi dengan doa. Pengorbanan waktu, tenaga, uang dan lain sebagainya dalam meraih semua mimpi itu.

Jangan pernah kita khianati mimpi kita dengan hanya berdiam diri tanpa berani bertindak, hanya karena takut dengan resiko mengalami kegagalan. Resiko??!! Ya..semua pilihan dan keputusan yang kita buat pasti memiliki resiko. Untuk bisa menjadi seorang yang sukses kita harus berani dan siap untuk gagal, karena gagal bukan berarti kekalahan, tapi gagal adalah sebuah langkah awal menuju kesuksesan.

Apakah orang yang sukses tidak pernah gagal??!! Jangan salah…mereka semua pernah mengalami kegagalan. Jika mereka tidak pernah merasa mengalami kegagalan, itu bukan berarti mereka tidak pernah gagal, melainkan lebih karena mereka tidak pernah menganggap hal itu sebagai kegagalan.

Segala keputusan yang kita buat pasti mengandung resiko. Resiko yang dimaksud bukan hanya resiko akan mengalami kegagalan, tapi juga resiko tidak akan meraih kesuksesan. Bagaimana mungkin ada resiko tidak akan meraih kesuksesan?! Contoh sederhananya seperti ini. Seorang mahasiswa yang kemampuannya berada sedikit diatas rata-rata, ingin menjadi seorang yang berprestasi di kampusnya, bermimpi ingin meraih predikat cum laude. Selama ini, metode belajar yang dia lakukan adalah mengurung diri di kamar dan tidak mau diganggu oleh siapapun selama masa ujian. Dengan menggunakan metode ini, si mahasiswa tersebut selalu mendapatkan nilai sedikit diatas rata-rata.

Ada 2 pilihan yang dapat diambil oleh si mahasiswa tersebut, yaitu pertama melakukan metode yang sama terus menerus sampai lulus kuliah dengan probabilitas yang paling mungkin mendapatkan nilai selalu sedikit diatas rata-rata, atau pilihan kedua merubah metode belajarnya dengan harapan dapat mendongkrak nilainya, dan mampu meraih mimpi-mimpi yang selama ini selalu menjadi impiannya.

Baik pilihan pertama maupun pilihan kedua sama-sama memiliki resiko. Pilihan pertama mengandung resiko, yaitu resiko tidak akan pernah meraih mimpinya untuk mendapatkan predikat cum laude, dan pilihan kedua yang juga mengandung resiko, yaitu resiko mengalami kegagalan. Bedakan antara resiko tidak akan pernah meraih kesuksesan dengan resiko mengalami kegagalan. Untuk kasus diatas, dengan memilih pilihan pertama, si mahasiswa hanya akan mendapat nilai sedikit diatas rata-rata, dan tidak akan pernah meraih predikat cum laude, karena dia adalah seorang risk avoider ataurisk averse. Sedangkan dengan memilih pilihan kedua, si mahasiswa mungkin akan mengalami kegagalan, namun hal tersebut akan menjadi pengalaman berharga baginya, sehingga dia akan mencoba metode lain untuk dapat meraih mimpinya itu, karena dia adalah seorang risk taker. Dengan menjadi seorang risk taker, probabilitas si mahasiswa dapat meraih mimpinya jauh lebih besar dibandingkan jika dia memilih pilihan pertama.

Dan hal ini memang pernah nyata terjadi… it’s true story. Waktu jamannya masa-masa kuliah dulu, saya pernah mengenal seorang mahasiswa yang berani merubah metode belajarnya dengan resiko mendapatkan nilai yang jeblok untuk semester ini. Dari yang awalnya tidak pernah mau diganggu waktu belajarya pada masa-masa ujian, dia mengubah metode belajarnya dengan menghabiskan waktunya di perpustakaan, mushola ataupun di café untuk belajar bersama dengan teman-temannya, dan hanya meluangkan waktu yang amat sangat sedikit untuk belajar sendiri. Dan tahukah kawan, pada hari kelulusannya, nama dia dipanggil diatas panggung untuk menerima penghargaan karena dia telah berhasil meraih predikat cum laude.

Hal ini juga berlaku untuk mimpi-mimpi lainnya, apakah kita ingin menjadi seorang pengusaha sukses, seorang penulis terkenal, seorang atlit ternama atau lain-lainnya, semua harus kita lakukan dengan siap menerima resiko berupa tertundanya keberhasilan dalam meraih mimpi untuk sementara waktu. Bahkan Thomas Alfa Edison ketika baru berhasil menciptakan bohlam pada percobaan ke 10.000 kali, dia tidak pernah menganggap dirinya gagal, tapi dia mengatakan bahwa dia telah berhasil membuktikan bahwa formula yang dilakukannya pada 9.999 percobaan sebelumnya adalah formula yang tidak tepat untuk membuat sebuah lampu bohlam.

Jadi ketika kita gagal, bukanlah berarti kita gagal, tapi kita telah berhasil membuktikan bahwa apa yang telah kita lakukan itu adalah metode yang tidak tepat dalam menggapai asa, sehingga kita bisa mencoba metode lainnya lagi yang membuat kita berhasil meraih impian kita….

Bermimpilah kawan untuk selalu bisa melesat menembus awan, dengan kekuatan dan potensi yang selama ini masih terpendam didalam diri kita….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s